Cerita Ketika Gempa Bumi & Tsunami 2004 di Aceh (Kisah Nyata)

Selayaknya anak kecil (kelas 4 sd) umumnya, apalagi saat itu hari minggu pagi, kegiatan saya gak jauh2 dari yang namanya nonton kartun di tv atau bermain dengan anak2 sebaya saya.

Tapi hari itu saya lebih memilih bermain playstation (PS1) sendirian di dalam kamar.

Cerita Ketika Gempa Bumi & Tsunami 2004 di Aceh (Kisah Nyata)

Hari itu, 26 desember 2004, tepat pada pukul 08:15 WIB, kami yang berada di lantai atas dibuat terkejut oleh teriakan ibu saya dari lantai satu.

"Turun! Heiiii..... Gempa! Turun semua!"

Saya yang kala itu panik langsung lempar stik playstation. Dari anak tangga pertama langsung lompat ke anak tangga terakhir. Gak kayak biasanya satu per satu langkah. Sepanik itu.

Ingat betul, saat itu saya sempat melihat lampu gantung ruang makan sudah bergoncang hebat.

"Ya Allah, apa ini..."

Sesampainya di teras, saya lihat ibu dan kakak2 saya sudah berdiri di seberang rumah; sedangkan almarhum ayah duduk tenang di samping rumah seolah2 gak terjadi apa2.

Tapi saya yakin ada perasaan takut di hatinya tapi tidak ditampakkan ๐Ÿ˜”

Karena situasi semakin mencekam dan menakutkan, akhirnya saya susul ibu dan kakak2 saya di seberang rumah.

Ibu dan kakak2 saya terus berdoa, tahlil, dan tahmid agar diberikan keselamatan. Tentu saya pun ikut melantukan ayat2 Al-Qur'an.

Apalagi yang bisa diucapkan selain memohon pertolongan dan keselamatan dari Allah?

Wallahi mulut kering, kehausan, sampai saya "udahan" karena kebanyakan berdoa. Karena sadar dan lelahnya berdoa, saya sempat menghayati seberapa kuat goyangan dan getarannya.

Suara Tanah "Grok" dan Berayun-Ayun


Saya ingat tapi gak bisa mendeskripsikannya. Yang jelas tanah yang kami pijaki saat itu mengeluarkan suara "grok-grok".

Kami semua berayun2 ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri. Kadang pelan, kadang seperti ditolak yang membuat kami hampir terjatuh.

Adzan Terdengar dari Masjid


Ketika gempa sedang berlangsung, ada orang yang melantunkan adzan dari masjid. Jujur saya gak nyangka ada yang mengumandangkan adzan di masjid.

Mungkin orang berpikir kalau adzan bisa bikin tenang. Tapi enggak! Waktu itu saya semakin ketakutan.

Kenapa tiba2 adzan? Pas gempa lagi. Iya kan? Wallahu'alam barangkali ada teman2 yang bisa menjelaskannya di kolom komentar ๐Ÿ™

Gempa Terasa Selama 12 hingga 15 Menit


Para pembaca harus tahu. Gempa yang dirasakan lebih dari 10 menit. Pun ramai tetangga yang sepakat soal ini.

Soalnya ketika gempa terjadi, saya sendiri sempat bingung kenapa gak berhenti2.

Situasi Agak Tenang, Masuk ke Rumah


Begitu gempa selesai, gak semua orang berani masuk ke rumahnya untuk sementara waktu. Alasannya takut gempa susulan. Juga takut kalau tiba2 rumahnya roboh.

Teman2 perlu tahu, waktu gempa terjadi, saya keluar rumah tanpa baju dan celana. Cuma pakai kolor #TolongJanganDibayangkan... ๐Ÿ˜

Gak ada persiapan sama sekali. Toh terjadi begitu saja. Dalam keadaan panik langsung lari ke luar rumah.

Saya yang cuma pakai kolor, malu dong! Terpaksa saya masuk ke rumah terus naik ke lantai 2. Buru2 pakai baju dan celana, langsung keluar rumah lagi.

O iya, kebetulan rumah saya bangunan 3 lantai. Begitu kami masuk ke rumah, yang pertama kali dicek saat itu adalah dinding rumah. Takutnya ada yang retak. Takutnya tiba2 roboh.

Alhamdulillah aman. Gak terjadi apa2. Padahal gempanya berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter (SR).

Saya dan Alm Ayah ke Pinggir Laut


Waktu itu almarhum ayah saya ajakin saya jalan2 keliling kampung untuk lihat situasi dan kondisi pasca gempa.

Fyi teman2, rumah saya gak jauh dari bibir pantai. Mungkin sekitar 200 meter.

Gak tahu kenapa, almarhum ayah saya mengajak saya ke arah pinggir laut yang padat penduduk.

Wallahi gak ada yang aneh saat itu. Yang terlihat cuma orang2 yang masih panik dan syok, yang masih berada di depan rumahnya.

Air Laut Surut, Menjauhi Bibir Pantai


Sesampainya di rumah, semuanya tampak seperti biasanya. Gak terjadi apa2.

Sampai lah di suatu momen, orang2 di pinggiran laut teriak2 sambil mengangkut perabot rumahnya kalau air laut surut (menjauhi bibir pantai).

Surutnya begitu jauh, sampai2 banyak ikan yang tergeletak bebas dan bisa diambil oleh siapa saja.

Almarhum ayah saya dengan keponya yang luar biasa, pergi ke laut. Saya minta ikut tapi gak dibolehin. Alasannya karena saya gak bisa berenang. Iya sih, tapi itu dulu. Sekarang sudah bisa! ๐Ÿ˜

Begitu alm ayah balik ke rumah, informasi tsb memang benar2 terjadi. Katanya air yang surut tsb kembali lagi ke bibir pantai dengan cukup cepat. Air laut yang balik pun berwarna hitam, kotor, seperti air comberan.

Gak ada yang tahu kenapa...

Laporan dari Metro TV: Banda Aceh Diterjang Tsunami


Saya kurang ingat persisnya.

Mungkin hampir 2 jam setelah gempa, tetangga kami pada heboh katanya kota banda aceh sudah tenggelam karena diterjang air laut.

"Coba buka tv, metro tv! Banda aceh tenggelam. Cepat, cepat!" - ibu saya.

Benar saja dong! Banda aceh diterjang tsunami yang sangat dahsyat. Airnya hitam, berlumpur, dan tak terbendung. Suatu kejadian yang gak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kami Tidak Tahu Apa Itu Tsunami


Waktu itu kami gak tahu apa itu tsunami. Baru lah tahu kalau setelah gempa berkekuatan besar, ada kemungkinan terjadinya tsunami.

Asumsi saya, itulah yang menyebabkan kenapa banyak orang yang meninggal di aceh pasca gempa dan tsunami.

Mungkin di pikiran masyarakat kala itu, setelah gempa ya sudah. Gak akan terjadi apa2. Gak ada persiapan sama sekali untuk "menyambut" tsunami. Gak ada yang buru2 pergi ke dataran yang lebih tinggi. Gak ada yang panik juga setelah gempa.

Buktinya orang2 kembali ke aktifitasnya masing2 -- meski masih syok dan ketakutan. Saya dan almarhum ayah pun sempat2nya pergi ke pinggir laut hanya untuk jalan2.

Padahal tsunami sudah mengintai pesisir pantai, hanya tinggal menghitung jam.

Pinggiran Kota Kena Dampak Tsunami


Waktu bencana tsb terjadi, saya sedang berada di kota lhokseumawe. Omong2 saya memang domisili di kota ini.

Kota ini cuma pulau kecil yang hanya bisa diakses dari 2 jembatan, cunda dan loskala. Fyi kota ini berada di pinggir pantai.

Cerita Ketika Gempa Bumi & Tsunami 2004 di Aceh (Kisah Nyata)

Jika gempa dan tsunami menghantam kota ini, saya pastikan seluruhnya tamat riwayat.

Alhamdulillah, hanya sebagian yang terkena. Saya ingat, di kampung sebelah airnya naik ke jalanan. Di kampung pusong lama (kalau teman2 tahu), sebagian besarnya rata dengan tanah. Saya lihat langsung waktu jalan2 dengan almarhum ayah saya.

Presiden: Status Bencana Nasional


Alhamdulillah presiden indonesia kala itu yakni bapak susilo bambang yudhoyono (sby) segera menetapkan status bencana nasional dengan apa yang terjadi di aceh.

Jujur, suatu hal yang patut disyukuri sekali.

Soalnya kerusakannya sangat parah. Ratusan ribu orang meninggal, kemiskinan melonjak drastis karena lumpuhnya perputaran ekonomi, trauma psikologis, fasilitas kesehatan hancur, penyakit menular, dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Setelah presiden mengeluarkan status bencana nasional, alhamdulillah bantuan terus2an masuk ke aceh.

Seingatnya, bapak presiden pun langsung terbang di hari pertama bencana, dari papua ke aceh untuk melihat langsung situasi dan kondisi terkini.

Solidaritas Global


Begitu statusnya ditetapkan ke bencana nasional, banyak organisasi kemanusiaan asing yang datang ke aceh.

Yang paling saya ingat adalah organisasi WHO dan UNICEF. O iya, kalau gak salah juga UNESCO juga ikut membantu.

Yang menariknya gajah pun didatangkan dari luar daerah. Tujuannya untuk membersihkan puing2 bekas tsunami. Momen ini saya saksikan langsung pada tahun kedua pasca tsunami di kota banda aceh.

O iya! Saya dan teman2 sekolah saya mendapatkan tas warna biru dari UNICEF loh! Kami juga mendapatkan roti, bentuknya seperti regal (bulat). Duh, kerasnya gak main2 ๐Ÿ˜ Mungkin roti khusus untuk tentara kali ya. Tapi enak banget kalau diseduh dengan milo susu ๐Ÿ˜

Trauma yang Sulit Disembuhkan


Saya gak tahu apa yang dirasakan oleh orang2, tapi bagi saya pribadi saya masih merasakan trauma yang cukup mendalam.

Sampai saat ini saya masih takut kalau lihat laut. Sudah berapa kali saya datang main2 ke pantai lampuuk (banda aceh), selama itu juga saya masih merasakan ketakutan. Rasanya pengen cepat2 pulang.

O iya, setelah tsunami 2004, saya tidak pernah mandi laut lagi. Padahal jarak laut dengan rumah saya cuma 200 meter. Sebegitunya.
Arief Ghozaly
Arief Ghozaly Penulis (blog) sejak 2015 - sekarang.

Posting Komentar untuk "Cerita Ketika Gempa Bumi & Tsunami 2004 di Aceh (Kisah Nyata)"

Traktir Kopi!